Masjid Al Amin

Kajian Ahlussunnah As Salafiyyah Masjid Al Amin Semampir Tengah IIIA Surabaya

Wali Alloh dan Wali Syetan

Posted by masjidalamin on November 21, 2007

Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah) maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah SWT.
Pengertian wali secara bahasa (etimologi) berarti: dekat.

1. Wali Alloh

Secara istilah (terminologi) menurut pengertian dari para ulama’ bahwa:

Wali Alloh adalah semua orang yang beriman lagi bertaqwa, termasuk para nabi. Wali Alloh yang paling utama adalah para nabi. Diantara para nabi, yg paling utama adalah para rasul. Diantara para rosul, yang paling utama adalah Rosul Ulul ‘azmi. Diantara para rosul Ulul ‘Azmi, maka yang paling utama adalah Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa“. (Yunus: 62-63).

Ciri-Ciri Wali Alloh

Ciri pertama, yaitu beriman, yang mana keimanannya diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan diwujudkan dalam perbuatan.

Ciri kedua, yaitu bertaqwa, artinya ia melaksanakan apa2 yang diperintah Alloh dan menjauhi apa2 yang dilarang Alloh. Hal ini berhubungan dengan syariat Alloh SWT

2. Wali Setan, yaitu orang yang dekat dengan syetan, menjadi hamba setan.

Setan juga memberikan wahyu kepada para wali-wali mereka. Sebagaimana firman Alloh :

“Sesunguhnya setan-setan itu mewahyukankan kepada wali-wali mereka untuk membantahmu, jika kamu mentaati mereka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang musyrik”. (Al An’aam: 121).

Oleh karenanya, Imam Syafi’i rahimahulloh berkata: “Bila kamu melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka ukurlah amalannya dengan as-sunnah”.

Jadi jikalau ada seseorang yang mengaku sebagai wali namun dia meninggalkan sholat dengan alasan “Itukan syariat! Kita ini sudah ma’rifat.”, maka yakinlah bahwa dia bukan wali. Karena seorang wali sesuai dengan ciri-cirinya di atas ialah bahwa dia harus seorang yang bertakwa dan salah satu bentuk ketakwaan seseorang adalah tampak dari ketaatannya melaksanakan syariat Alloh SWT seperti sholat, puasa, zakat, haji, dsb.

Bahkan Rosululloh saw, yang merupakan wali Alloh yang paling utama, beliau pun tetap melaksanakan sholat, zakat, puasa, dan syariat-syariat Alloh yg lain, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibunda Aisyah ra:

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Yazid ia berkata:Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah ra: ‘Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?’ ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan azan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).” (HR. Muslim)

Pada dasarnya diantara para wali-wali Alloh itu ada yang diberi karomah dan ada yg tidak. Namun demikian bukan berarti bahwa wali yang diberi karomah lebih mulia disisi Alloh dari pada wali yang tidak diberi karomah.

Contohnya: Abu Bakar ra tidak diberi karomah oleh Alloh SWT seperti halnya Umar bin Khattab ra. Namun demikian, Abu Bakar lebih utama dari pada Umar bin Khattab sebagaimana yang terdapat pada hadits-hadits Rosululloh saw.

Contoh-contoh karomah para wali Allah:

  1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail. Berkata Urwah:”Mereka melihat malaikat mengangkatnya”[1]
  2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kokoh, maka para musuhpun berkata :”Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racun”, lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.[2]
  3. Sa’ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan dengan do’anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.[3]
  4. Umar bin Khottob, pernah mengutus pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut. Dan ketika Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah, gunung !, wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :”Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenagkan kami”.[4]
  5. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :”Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?”, lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”, lalu dia bertanya lagi :”Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke api. Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin dan keselamatan untuknya.[5]
  6. Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya hari -pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.[6]
  7. Uwais Al-Qorni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.[7]
  8. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena bacaannya.[8] Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain t[9]. Salman t dan Abu Darda’ t makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada piring tersebut bertasbih.[10] Ubbad bin Busyr t dan Asid bin Hudlair t kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.[11]
  9. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya.[12] Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka berdua.[13]
  10. Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburannya telah menjadi seluas mata memandang.[14]
  11. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qur’an maka dia menangis dengan air mata yang banyak. Dan jika dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah makanan tersebut.[15]

Memuliakan Wali-wali Alloh.

Sesungguhnya menghormati wali bukanlah dengan meminta di kuburannya, namun melaksanakan ajaran agama yang dibawanya.

Jika berkunjung atau berdoa ke kuburan wali hal itu adalah cara yang benar untuk memuliakan para wali Alloh maka tentulah para sahabat akan berbondong-bondong kekuburan nabi saw untuk memuliakan beliau. Jikalau perbuatan ini baik tentulah para mereka (para sahabat ra) yang akan pertama kali melaksanakan amalah yang baik itu karena merekalah generasi terbaik umat ini. Namun demikian tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa para sahabat ra berkunjung ke makam Rosululloh saw untuk memuliakan arwah beliau saw atau bahkan untuk berdoa memohon di kuburan beliau.

Saat mereka kekeringan atau kelaparan atau saat diserang oleh musuh, saat paceklik terjadi di Madinah, Umar bin Khatab mengajak kaum muslimin melakukan shalat istikharah kemudian menyuruh Abbas bin Abdul Muthalib berdoa, karena kedekatannya dengan nabi, bukannya Umar meminta kepada Nabi shalAllohu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggal dunia atau kepada roh beliau saw yang telah di alam barzah. Ini merupakan salah satu hujjah bahwa tidak dibenarkan berdoa di kuburan kecuali untuk mendoakan si mayit. Dan juga tidak dibenarkan mengambil perantara (bertawassul) dengan orang sholeh yang sudah meninggal dunia.

Tawassul yang disyariatkan:

  • 1. Tawassul dengan asma dan sifat Alloh SWT.
  • 2. Tawassul dengan amal kebaikan kita
  • 3. Tawassul dengan orang sholeh yang masih hidup

1. Dari firman Allah :

” Artinya : Bagi Allah ada nama-nama yang bagus (al-asma’-ul-husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang ilhad (tidak percaya) kepada asma Allah. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. ” [Al-A’raf:180] [1]

2. Kisah tiga orang penghuni gua dan tawasul dengan amal saleh

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Tentang 3 orang pemuda yang terjebak di dalam goa.

Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu.

Salah seorang dari mereka berdoa: dengan amal kebaikannya yang telah merawat kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia dengan baik.

“Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit.”

Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit.

Yang lainnya kemudian berdoa: dengan perantara amal baiknya yaitu ketika hendak berzina kemudian ia mengurungkan niatnya, tidak jadi berzina, karena ia ingat dan takut kepada Alloh.

“maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami.”

Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka.

Yang lainnya berdoa: dengan perantara amal kebaikannya berupa taubat dari perbuatan mendzolimi temannya. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu. (Shahih Muslim No.4926)

3. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat yang bertawassul kepada Abbas di zaman Khalifah Umar bin Khaththab ra meminta agar beliau berdo’a kepada Allah untuk memohon diturunkan hujan. Lalu Abbas bin Abdul Munthalib ra bedo’a kepada Allah yang diamini para sahabat. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa Fi Yaumil Jum’ah 2/18]


[1] As-Siyar 2/224

[2] Al-Furqon hal 154

[3] Riwayat At-Thirmidzi no 3751 dan Ibnu Hibban no 2215

[4] Riwayat Bukhori no 3198, dan Muslim no 1610

[5] As-Siyar 4/8,9

[6] Riwayat Al-Lalikai dalam Al-Karomat hal 165-166

[7] Al-Furqon hal 157[8] Riwayat Bukhori no 5018

[9] Riwayat Muslim no 1226

[10] As-Siyar 2/348

[11] Riwayat Bukhori no 3805

[12] As-Siyar 4/195

[13] As-Siyar 4/86

[14] As-Siyar 5/60

[15] As-Siyar 9/7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: