Masjid Al Amin

Kajian Ahlussunnah As Salafiyyah Masjid Al Amin Semampir Tengah IIIA Surabaya

Yang Tergadai

Posted by masjidalamin on November 16, 2007

Dari Samurah bin Jundub : Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya, disembelih kambing untuknya pada hari ketujuh dan dicukur rambutnya, dan diberi nama.” Hadits shahih diriwayatkan Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1522, Nasa’I 4231, Ibnu Majah 3165, dan Ahmad 5/7-8 dan lain-lain.

Beberapa hari terakhir ini aku sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran anakku. Mulai dari mempersiapkan keperluan standar seperti popok, selimut, lampin, baju, celana, gurita, bantal, guling, sampai filling cabinet warna warni khas anak-anak. Sampai mempelajari tentang ilmu pelaksanaan Aqiqah.

Ilmu Aqiqah tentu saja sangat penting, kalau kita melakukan sesuatu amalan tanpa ilmu yang benar maka bisa tertolak alias tidak dapat pahala, malah bisa-bisa jadi bid’ah alias dapat dosa. Apalagi ini menyangkut sunnah Rosul, ya harus mengikuti tatacara yang dicontohkan Rosululloh SAW.

Setelah membaca beberapa kajian tentang Aqiqah di internet, ada beberapa amalan yang disunnahkan :

  • Memberi nama pada hari pertama atau hari ketujuh dan mentahnik.
    Dari Abu Musa, dia berkata, “ Telah dilahirkan untukku seorang laki-laki. Lalu aku membawanya kepada Rasullallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menamakannya Ibrahim, lalu beliau mentahniknya dengan sebuah kurma, dan mendo’akan keberkahan untuknya, lalu beliau menyerahkannya kepadaku (kembali).” (Hadits shahih riwayat Bukhari no. 5467 dan 6197, serta Muslim 6/175). Tahnik adalah menguyah sesuatu kemudian meletakan/memasukkan ke mulut bayi lalu menggosok – gosokkan ke langit – langit (mulut)nya ( Fathul Baari Kitabul ‘Aqiqah).
  • Mendoakan Keberkahan Setelah menTahnik.
    Adapun lafazh doanya adalah,

    BaarakallaHu fiHi” yang artinya “Semoga Berkah Allah kepadanya” atau “AllaHumma baarik fiih” yang artinya “Ya Allah berkahilah ia” (Kitab Fathul Baari’ no. 3909 oleh Al Hafizh Ibnu Hajar)

    Yang dimaksud dengan barakah adalah tetapnya kebaikan dan banyaknya kebaikan (Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Utsaimin)

  • Memberikan kabar gembira kepada saudara.
    Karena kabar gembira itu dapat menggembirakan dan menyenangkan seorang hamba, maka seorang muslim disunnahkan segera menyampaikan dan memberitahukan kabar gembira kepada saudaranya, sehingga ia menjadi senang karenanya (Lihat Tuhfah al Wadud oleh Ibnul Qayyim al Jauziyyah)
  • Mengadakan ‘Aqiqah pada hari ketujuh.
    Termasuk yang disyariatkan oleh Alloh ketika menyambut buah hati adalah bersyukur kepada Alloh dengan Aqiqah. Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh dihitung mulai dari hari kelahiran. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Sebagaimana sabda Rosululloh yang artinya, “
    Bayi laki-laki hendaklah diaqiqahi dua ekor kambing sedangkan bayi permpuan satu ekor kambing.” (Shohih. HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dalam hadis lain, Samurah bin Jundub menuturkan bahwa Rosululloh bersabda, “Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh kambing aqiqah disembelih, rambut kepalanya dicukur serta diberi nama.” (Hasan Shohih. HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).
  • Mencukur rambut kepala bayi pada hari ketujuh.
    Mencukur habis rambut kepala dengan tidak melakukan qoza, yaitu mencukur sebagian dan membiarkan sebagian yang lain. Ibnu Umar menceritakan bahwa Rosululloh melarang qoza. (HR. Bukhari). Perlu ada kehati-hatian saat mencukur rambut, karena kulit kepala bayi masih lunak.
  • Bersedekah.
    Bersedekah untuk orang miskin dengan senilai perak yang seberat rambut bayi.
    “Cukurlah rambut kepalanya (Al-hasan) kemudian bersedekahlah dengan perak untuk orang-orang miskin seberat rambut tadi.” (Hasan HR Ahmad). Perintah untuk mencukur habis rambut bayi ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan. Namun yang dirojihkan Syaikh Al Utsaimin, cukur habis ini hanya berlaku untuk bayi laki-laki (Lihat Syarh Mumti’ 7/540)

Itulah beberapa amalan sunnah yang dicontohkan oleh Rosululloh SAW berkaitan dengan kelahiran anak. Adapun amalan-amalan yang sering kali terjadi dalam masyarakat tanpa dasar dalil yang shahih seperti :

  • Memendam plasenta (tali pusar) dipekarangan rumah dan diberi penerangan (berupa lampu, lilin, dsb)
  • Melaksanakan selamatan pada hari tertentu (misal hari ke-36)

Sama sekali tidak ada dasarnya. Apalagi selamatan itu di isi dengan berbagai macam ritual ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh SAW. Kalaupun ibadah-ibadah seperti itu baik pasti Rosululloh SAW akan mencontohkannya.

Ada satu kebiasaan yang sangat lazim dan hampir diWajibkan hukumnya berkaitan dengan saat kelahiran bayi, yaitu mengADZANi di telinga kanan dan mengIQOMAHi di telinga kiri. Saya pernah membaca hadits tentang menAdzani bayi, tetapi untuk mengIqomahi saya belum tau dasarnya. Ternyata kedua amalan (mengAdzani dan mengIqomahi) tersebut haditsnya Dho’if.
Dari ‘Ubaidullah bin Abi Rafi’ dari bapaknya (yakni Abu Rafi’), ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah adzan di telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah” (HR. Abu Dawud no. 5105, Tirmidzi no. 1514 dan Baihaqi 9/305, semuanya dari jalan Sufyan Ats Tsauri dari ‘Ashim bin ‘Ubaidillah dari bapaknya)

Sanad hadits ini dha’if karena ‘Ashim bin Ubaidillah bin ‘Ashim adalah seorang rawi yang lemah dari sisi hafalan. Dia telah dilemahkan oleh jama’ah ahli hadits seperti : Ahmad bin Hambal, Sufyan bin Uyainah, Abu Hatim, An Nasai, Ibnu Ma’in dan lainnya sebagaimana diterangkan oleh Al Hafizh pada Kitab Tahdzib 5/46-49.Alhamdulillah, banyak ilmu baru yang kudapat, semoga kelahiran anakku nanti disertai dengan amalan-amalan sunnah yang shohih dari Rosululloh SAW, junjungan kita, idola kita, panutan kita. Dan semoga terhindar dari amalan-amalan fiktif karangan manusia tanpa dasar dan tujuan yang jelas yang nantinya bisa terjerumus pada perbuatan Bid’ah. Naudzubillah Min Zalik.

Tetapi masih ada beberapa pertanyaan yang aku belum dapat jawabannya.
Yang pertama berkaitan dengan istri. Kapan istri mulai tidak wajib sholat, ketika air ketuban pertama keluar, atau ketika setelah melahirkan??
Yang kedua berkaitan dengan perjamuan Aqiqah. Apa diperbolehkan tidak mengundang orang kerumah untuk makan-makan, tetapi mengirimkanya kerumah masing-masing setelah dikemas dalam bentuk kotak??

Akhirnya setelah mencari-cari lebih intensif kedua pertanyaan diatas kudapat jawabannya.

Syaikh Utsaimin menulis dalam kitab-nya Risalah Fi Dimaa’ Ath-Thabii’iyah Lin-Nisaa’ tentang definisi nifas sendiri sebagai berikut:

“Nifas ialah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari) yang disertai dengan rasa sakit’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak memberi batasan hari pada masa nifas, “Darah yang dilihat seorang wanita hamil ketika mulai merasa sakit adalah nifas”. Dengan kata lain Beliau memberi batasan pada “rasa sakit pada wanita hamil ketika saat-saat mau melahirkan”, bukan pada hitungan hari.

Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik satu simpul yang sama bahwa adanya hukum dikaitkan dengan keberadaan darah itu sendiri, dengan didukung tanda lain yaitu rasa sakit yang mengiringi proses kelahiran. Sebagaimana diketahui, bahwa wanita hamil menjelang saat-saat melahirkan akan mengeluarkan darah, sebagai awal pembukaan rahim yang dalam istilah medisnya disebut “The Show”. Darah ini keluar 2 atau 3 hari sebelum kelahiran (“True Labour”), yang biasanya akan diikuti pecahnya ketuban (“Water Break”) sehari atau dua hari sesudahnya. Setelah air ketuban pecah, dalam kondisi normal bayi akan lahir dalam waktu 24 jam setelahnya. Pada masa-masa seperti ini, wanita hamil akan ditimpa kesakitan dan kelelahan yang amat sangat karena kontraksi dalam perutnya berlangsung rutin dan terus menerus. Jika pada masa-masa seperti ini, dia tetap harus sholat, wudhu dan lain-lain rutinitas sehari-hari yang berhubungan dengan sholat pastilah sangat memberatkan. Subhanallah, islam diturunkan sebagai agama yang tidak memberatkan, dengan adanya hukum nifas setelah “The Show” keluar telah meringankan wanita hamil di saat detik-detik terakhir bayinya akan keluar.

Untuk masalah perjamuan Aqiqah, tidak ada syariat untuk melakukan acara tertentu seperti pengajian, pembacaan doa bersama, apalagi sholawat. Bahkan ceramah tentang syariat Aqiqah pun tidak pernah dicontohkan Rosululloh SAW. Esensi dari perjamuan Aqiqah adalah mengumumkan kabar gembira disertai rasa syukur atas kelahiran anak. Dan daging aqiqah sebagiannya dapat dimakan dan sebagian dibagikan kepada tetangga, fakir dan miskin serta diperbolehkan pula mengundang orang untuk memakan daging ‘aqiqah (Lihat Tuhfah al Wadud oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah). Jadi tidak ada keharusan untuk mengadakan perjamuan dirumah, yang penting adalah tersebarnya kabar gembira dan rasa syukur.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Al-Ahzab : 36)

Semoga bermanfaat
Wallah a’lam bishshawab

Maraji’ :
1. 6 Sunnah Kelahiran Anak
2. Menyambut Kehadiran Sang Buah Hati
3. Menyambut Buah hati
4. Nifas dan Hukum-hukum Seputarnya

Surabaya, 13 Juli 2006

Sandi Kukuh
http://tipis.multiply.com

2 Responses to “Yang Tergadai”

  1. tipis said

    Kemarin malam (15/11) ada undangan aqiqah teman. Tepat 7 hari yang lalu anaknya lahir.
    Acara pertama sholawatan sekitar 15 menit. Trus dilanjut sambil berdiri.Ketika berdiri ini makin seru, sholawatnya bersahut-sahutan, seperti barsanji.
    Ada orang yang membawa sebotol minyak wangi non alkohol dan mencipratkannya ditangan para jamaah.
    Setelah itu sang ayah menggendong anaknya dan berjalan keliling memperlihatkan anaknya pada semua orang.
    Setelah itu kembali duduk dan berdoa, alhamdulillah selesai juga kataku dalam hati.
    Tapi kemudian seseorang berbicara dalam bahasa madura, kira-kira artinya ada seorang habib yang akan datang dan hadirin diminta mengiringi dengan bersholawat.
    Setelah sekitar 10 menit bersholawat datanglah sang habib , seorang yang telah sepuh. Setelah habib duduk sholawat berhenti, dan habib mulai memimpin doa lagi.
    Dan setelah itu benar-benar berakhir acaranya, ditandai dengan keluarnya makanan (ini dia acara intinya hehehe).
    Sepanjang acara saya terus berfikir, rentetan acara aqiqah seperti ini kok saya belum pernah tahu sebelumnya, maklum ketika anak pertama saya akan lahir, saya mulai sibuk belajar tentang aqiqah yang benar sesuai tuntunan Rosululloh, dan saya tuangkan dalam tulisan ini.
    Makanya pagi ini saya baca lagi. Sekalian saja saya posting disini. Wallohu ‘alam.

  2. nesh..... said

    ya begitulah keragaman umat di Indonesia, tak perlu kita larang asal tidak bid`ah aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: