Masjid Al Amin

Kajian Ahlussunnah As Salafiyyah Masjid Al Amin Semampir Tengah IIIA Surabaya

Pernikahan …

Posted by masjidalamin on October 31, 2007

Beberapa pelajaran yang penting untuk dijadikan nasihat, khususnya bagi umat Islam yang tanpa disadari sekarang ini telah banyak menyimpang dari proses dan prosedur pernikahan yang dicontohkan oleh Rasulullah , di antara pelajaran dan nasihat yang dapat diambil dari perkawinan Muhammad  dengan Khadijah adalah :

Pertama,
Niat ikhlas karena  . Rasulullah  sebagai seorang pemuda pada saat itu juga menjaga kehormatannya, keikhlasannya, dan kebersihan hatinya untuk tidak terkotori oleh karena interaksi dengan lawan jenis, bahwa Rasulullah  pada saat itu murni niat dan motivasinya adalah berdagang, tidak lebih dari itu, sebagaima-na Nabi Musa . yang ikhlas bekerja membantu meminumkan ternak dua orang wanita yang tengah menggembalakan kambing-nya, lalu setelah selesai membantunya seakan begitu saja melupakan jasanya, lalu mencari tempat berteduh seraya berdo’a kepada   :
…         
“…Rabbi innii lima anzalta ilayya min khairin faqiir”
“Ya  sesungguhnya aku sangatlah butuh terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku berupa kebaikan”. (QS. Qashash 28 : 24).

Oleh karena itu yang ada dalam proses ajaran Islam, kaitannya dengan proses dan prosedur menjalin hubungan yang halal dalam pandangan  , adalah berusaha melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah . Barangkali di zaman sekarang sedikit saja seorang merasa berjasa telah menolong seorang gadis, bisa jadi langsung berlanjut pada hubungan yang dimana orang itu kemudian menjadikan gadis tadi sebagai kekasih atau pacarnya. Rasullullah  dan nabi Musa  bersih dari kecenderungan dosa dan maksiat seperti itu.

Kedua,
Tidak ada pacaran dalam Islam, hal itu jelas dicontohkan oleh Rasulullah  dalam proses perkawinannya dengan Khadijah, dan Nabi Musa  dalam perkawinannya dengan salah seorang putri nabi Syuaib , jelas tidak ada unsur pacaran, yaitu hubungan bebas ataupun semi bebas antara laki-laki dan wanita yang belum diresmikan melalui akad pernikahan, seperti berkhalwat atau berdua-dua-an baik di jalan maupun di satu ruangan, berkomuni-kasi, atau bercanda yang mengakibatkan maksiat dan kotornya hati seperti yang dijelaskan dalam firman  
 • •      ••           • 
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah Perkataan yang baik,

[1213] Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
[1214] Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
(QS Al-Ahzab : 32), dan sebagainya.

Oleh karena itu yang ada dalam proses ajaran Islam, kaitannya dengan proses dan prosedur menjalin hubungan yang halal dalam pandangan  , adalah berusaha melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad  ketika memproses pernikahannya dengan Khadijah , yaitu pertama diawali dengan berusaha mengenali calon suami atau isterinya dengan informasi dari orang terdekat, lalu melakukan penjajagan dengan mediator atau perantara sebagaimana yang dilakukan Khadijah  dengan Maisaroh, sejauh mana calon yang dimaksud memberi isarat untuk menerima, ketika sudah ada isarat dari calon yang dijajaginya, maka proses selanjut-nya bisa dilangsungkan khitbah, bahkan setelah khitbah secara resmi diterima, bisa dilangsungkan dengan akad nikah. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah .

Kalaupun ada jeda atau interval setelah khitbah, hal itu hanyalah dimaksudkan untuk melakukan persiapan-persiap-an sewajarnya untuk segera melaksanakan pernikahan, agar hubungan kedua lawan jenis lebih cepat memperoleh sertifikat kehalalannya. Oleh karenanya mengikat hubungan hanya dengan ikatan tukar cincin, seperti yang banyak ditradisikan oleh orang di zaman sekarang ini, sementara rencana pernikahannya masih sangat jauh waktunya, mungkin bisa setahun dua tahun lagi, maka hal seperti itu tidak ada rujukannya dalam syariat dan tidak ada contoh-nya dalam sunah Rasulullah .

Ketiga,
Tidak menjadi aib bila wanita menawarkan dirinya untuk dinikahi, tentu saja dengan syarat tidak mengorban-kan harga diri, misalnya langsung berkata kepada orangnya, tetapi meminta bantuan orang lain untuk menyampai-kannya seperti yang dilakukan Khadijah  melalui Maisaroh, dan penawarannya juga benar-benar dilandasi oleh keyakinan bahwa orang yang ditawari itu akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, bukan karena dilandasi oleh hawa nafsu dan tujuan-tujuan rendah duniawi. Tentu saja hal itu sangat jarang terjadi pada diri seorang wanita, kalaupun Khadijah melakukan itu karena secara psikologis Ia adalah seorang janda yang dengan segala kedewasa-annya bersikap realistis dan tidak perlu merasa sungkan untuk tujuan kebaikan. Bahkan sikap seperti itu justru merupakan indikasi tingginya “Emosional and Intelectual Intelligen” atau kecerdasan emosi dan intelektual yang dimiliki oleh Khadijah .

Ini artinya bila menawarkan diri saja dibolehkan dengan sarat tidak melanggar rambu syariat, maka seorang gadis yang mengekspresikan hasratnya, agar misalnya orang tuanya mau menikahkan dirinya dengan seorang pemuda yang telah diyakini kebaikannya, meskipun hasratnya itu tidak dinyatakan secara terbuka tetapi dengan sindiran atau “kinayah” yang dilontarkan kepada orang tua atau walinya, sebagaimana hal ini disikapi oleh salah seorang putri nabi Syuaib , ketika nabi Musa datang menghadap ayahnya lantas Ia berkata :
           
“Yaa abatista’jirhu fa inna khaira manis ta’jarta al-qowiyyul amiin”
” Wahai Ayah, jadikanlah Ia (Nabi Musa) pekerja yang digaji, karena sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi jujur” (QS Qasash 28 : 26)
Ternyata nabi Syuaib sebagai Ayah yang bijak yang menyalami dalamnya suara hati anak perempuannya itu, kemudian merespon dan langsung menanggapi sindirannya dengan mengatakan kepada Nabi Musa  :
              … 

“Innii uridu an unkihaka ihda ibnatayya hadzihi ‘alaa an ta’juranii tsamaaniya hijaj”,
” Sesungguhnya aku ingin menikahkan salah satu putriku ini , atas dasar bahwa kamu bekerja kepadaku selama delapan tahun”. (QS Qasash 28 : 27)
Demikianlah bukan merupakan aib bila seorang wanita mengutarakan keinginannya untuk menikah kepada walinya, yang aib adalah bila hasratnya itu disalurkan dengan hubunagn bebas ataupun semi bebas pra nikah , permisif dan cenderung mengarah kepada perilaku dosa dan maksiat. Wallahu a’lamu bisshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: