Masjid Al Amin

Kajian Ahlussunnah As Salafiyyah Masjid Al Amin Semampir Tengah IIIA Surabaya

Pentingnya Ilmu Syar’i

Posted by masjidalamin on October 31, 2007

Untuk menjadi seorang muslim yang benar, yang mentauhidkan Allah, yang ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, dan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah, maka setiap muslim harus menuntut ilmu syar’i. Selain itu, tujuan makhluk diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah kepada-Nya, dan tudak mungkin tahu seperti apa ibadah kecuali dengan ilmu. Karena agama Islam adalah ilmu dan amal shaleh. Dan Rasulullah diutus oleh Allah dengan membawa keduanya.


Allah berfirman (yang artinya) :

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur-an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”[QS. At-Taubah : 33 dan QS. Ash-Shaaff : 9].

Allah juga berfirman (yang artinya) :

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan sukuplah Allah sebagai saksi.”[QS. Al-Fath :28].

Yang dimaksud dengan petunjuk ialah ilmu yang bermanfaat, dan agama yang benar ialah amal shalih. Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, dan segala hal yang bermanfaat bagi hati, ruh, dan jasad, serta melarang dari amal dan akhlaq yang buruk yang berbahaya untuk hati, badan, dunia dan akhirat.

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu merupakan jalan yang lurus (ash-Shirathal Mustaqim) untuk memahami antara yang haq dan yang bathil, antara yang ma’ruf dan yang mungkar, antara yang manfaat dan yang mudlarat (membahayakan), dan menuntut ilmu akan membawa kepada kebbahagiaan dunia dan akhirat, serta akan tetap senantiasa ditambahakan ilmu, hidayah, dan istiqomah di atas ketaatan.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu haruslah dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Kalau kita tidak memperhatikan dua hal ini, bukan mustahil Iman dan Islam kita akan terancam bahaya. Sebab, Iman kita bisa berkurang atau bahkan hilang karena perbuatan syirik, kufur, bid’ah dan maksiat yang tidak kita ketahui. Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi.

Definisi Ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsamin mengartikan Ilmu dalam kitabnya Syarhu Tsalatsatil Ushul (terjemahan dalam bahasa Indonesia Ulasan Tuntas Tiga Prinsip Pokok; Siapa Rabbmu? Apa Agamamu? Siapa Nabimu? Penerbit Darul Haq,
Jakarta) Ilmu adalah pengetahuan secara pasti terhadap sesuatu sesuai dengan hakikatnya.

Adapun yang menjadi perhatian kita di sini adalah ilmu syari’at; dan yang dimaksud dengannya adalah segala ilmu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya berupa penjelasan dan petunjuk-petunjuk-Nya. Maka, ilmu yang sangat terpuji itu adalah wahyu, sebuah ilmu yang hanya diturunkan oleh Allah(1). Sedang Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menagatakan bahwa Ilmu itu adalah Firman Allah, Sabda Rasulullah, dan atsar Shahabat. (ini lupa ada di mana).

Nabi Muhammad bersabda (yang artinya) :

“Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia akan membuat orang itu mengerti agama.”(2)

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham, akan tetapi sesungguhnya mewariskan Ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil untung yang besar.”(3) (4).

Sudah diketahui bersama bahwa yang diwarisi para Nabi kepada umatnya adalah Ilmu syari’at Allah, bukan yang lainnya, maka, para Nabi tidak pernah mewarisi ilmu dunia atau yang berkaitan dengannya.

Jadi, Ilmu syari’at adalah Ilmu yang sangat terpuji dan terpujilah bagi orang yang mengamalkannya. Bersamaan dengan itu saya tidak memungkiri kalau ilmu-ilmu lainnya juga mendatangkan faidah; akan tetapi faidah dengan dua kriteria :

Jika Ilmu itu menunjukkan ketaatan kepada Allah dan membantu dalam menegakkan agama Allah serta dapat dinikmati oleh hamba-hamba Allah, maka Ilmu itu menjadi suatu kebaikan yang mendatangkan manfaaat, dan mempelajarinya pun menjadi wajib dalam kondisi tertentu sesuai dengan perintah Allah dalam Firman-Nya (yang artinya):

“Oleh karena itu, siap siagalah kepada mereka dengan segala kekuatan yang ada padamu, seperti pasukan berkuda guna menimbulkan rasa takut pada musuh Allah dan musuhmu dan musuh lain lagi yang belum kamu ketahui, tetapi Allah sedah mengetahui. Apa saja yang kamu belanjakan untuk kepentingan fi sabilillah, maka kepadamu akan diberi ganti sepenuhnya, dan sedikitpun kamu tidak akan dianiaya.”[QS. Al-Anfal: 60].

Bagaimanapun saya ingin katakan bahwa sesungguhnya Ilmu yang mendapat banyak pujian adalah Ilmu syari’at; yaitu memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Selain itu, ilmu-ilmu lainnya hanya merupakan alat (perantara) kepada suatu kebaikan atau kejahatan.(5)

Hukum Menuntut Ilmu Syar’i (6)

Mencari ilmu syar’i adalah fardlu kifayah bagi seseorang. Terkadang juga menjadi wajib atau fardlu ‘ain. Tepatnya, jika ia ingin mengetahui Tuhannya dan bermuamalah dengan sesama manusia, maka dalam hal ini ia harus mengetahui dan mengerti bagaimana caranya menyembah Allah dan bagaimana pula caranya bermuamalah dengan sesama manusia.
Tidak diragukan lagi bahwa mencari Ilmu merupakan tindakan yang paling mulia. Ia termasuk jihad di jalan Allah, lebih-lebih di masa sekarang ketika bid’ah mulai muncul dan menyebar di tengah-tengah masyarakat, banyaknya kebodohan yang datang dari orang yang mengeluarkan pendapat dengan tanpa pengetahuan, serta munculnya perdebatan sengit di antara manusia.

Ketiga poin itulah yang mengharuskan generasi sekarang untuk bersemangat dalam mencari Ilmu, yaitu:

Pertama, Munculnya bid’ah dan menyebar di tengah-tengah masyarakat.
Kedua, Banyaknya manusia berfatwa tanpa ilmu.
Ketiga, Banyaknya perdebatan dalam suatu masalah yang sebenarnya telah jelas, akan tetapi mereka masih memperdebatkannya dengan tanpa pengetahuan.

Keutamaan Ilmu Atas Harta (7)

1. Ilmu merupakan warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta warisan para Raja dan orang kaya. Maka barangsiapa yang mengambil Ilmu, ia telah mengambil keuntungan besar dari para Nabi dan rasul.

2. Harta itu bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedang Ilmu justru bertambah dengan sebab diajarkan.

3. Ilmu itu menjaga empunya dan tidak susah dalam menjaganya, tidak memerlukan kotak, kunci atau yang lainnya, tanamkan saja Ilmu itu dalam hatimu dan Ilmu itu pun sudah terjaga dalam hati dan jiwamu. Lain halnya dengan harta, pemilik harta menjaga hartanya dengan penuh kehati-hatian dan penuh penjagaan.

4. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas Ilmu.

5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan hartanya, sedang Ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama paar pemiliknya.

6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja baik orang beriman, kafir, orang shalih, dan orang jahat, sedang Ilmu yang bermafaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.

7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan dirinya dan kemuliaannya. Sedang harta, ia tidak membersihkan dirinya, tidak pula menambah sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginan kepada Ilmu adalah inti kesempurnaannya dan keinginannya kepada harta adalah ketidaksempurnaan dirinya.

8. Sesungguhnya mencintai Ilmu dan mencarinya adalah akar dari seluruh ketaatan, sedang mencintai harta dan dunia adalah akar seluruh kesalahan.

9. Sesungguhnya orang berilmu mengjak manusia kepada Allah dengan Ilmunya dan akhlaknya, sedang orang kaya itu mengajak manusia ke Neraka dengan harta dan sikapnya.

10. Sesungguhnya yang dihasilkan dari kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkannya dengan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya, itulah kelezatan binatang, sedangkan kelezatan Ilmu, ia adalah kelzatan akal dan ruhani yang mirip dengan kelezatan para Malaikat dan kegembiraan mereka. Diantara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan Ilmu) terdapat perbedaan yang sangat mencolok.

11. Sesungguhnya manusia mengandalkan Ilmu untuk menjadi syahid/saksi dalam kebenaran. Dalilnya lihat QS. Ali-Imran :18.

12. Sesungguhnya seorang ‘ulama adalah salah seorang dari ‘umara/penguasa yang bersih, yaitu orang-orang yang tersebut dalam Firman Allah QS. An-Nisaa : 59. tugas mereka di sini ialah menerangkan tentang syariat Allah dan menuntun manusia kepadanya.

13. Ilmu adalah jalan menuju surga.

14. Ilmu adalah cahaya yang menerangi manusia dan memberi pengetahuan bagaimana caranya menyembah Tuhan, serta bagaimana cara bermuamalah dengan sesama manusia, sehingga jalan hidupnya berdasarkan Ilmu dan pengetahuan.

15. Orang yang berilmu adalah cahaya yang memberi petunjuk kepada manusia dalam urusan dunia dan agama, sebagaimana hadits yang masyhur tentang kisah dari Bani Israil yang membunuh 100 nyawa.

16. Sesungguhnya Allah mengangkat derajat para ahli Ilmu di dunia dan di akhirat. Allah berfirman (yang artinya) :“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian, serta orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”[QS. Al-Mujadilah : 11].

Rujukan:

• Ulasan Tuntas Tiga Prinsip Pokok, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Haq, April 2004. Jakarta.

• Panduan dalam Menuntut Ilmu, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaiman, Pustaka Azzam, Februari 2003. Jakata.

• Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang Shahih, Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Pustaka At-Taqwa, Juli 2005. Bogor.

________________________

Foote Note:

(1) Panduan Dalam Menuntut Ilmu, Syaikkh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaimin (terjemahan). Penerbit Najla Press, Februari 2003.Jakarta, hal. 15.

(2). HR.al-Bukhari, Kitab Ilmu, bab “Man Yuridillahu bihi Khairan”. HR.Muslim, Kitab Zakat, bab “an-Nahyu ‘Anil Mas’alah”.

(3) HR.Abu Daud, Kiyab Ilmu, bab “al-Hatsu ‘ala Thalabil Ilmi”. HR.Tirmidzi, Kitab Ilmi, bab “Ma Jaa fi Fadhlil Fiqh ‘alal Ibadah”.

(4) Panduan Dalam Menuntut Ilmu, Syaikkh Muhammad bin Shalih al-Utasaimin; penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaimin (terjemahan). Penerbit Najla Press, Februari 2003.Jakarta, 15-16.

(5) Panduan Dalam Menuntut Ilmu, Syaikkh Muhammad bin Shalih al-Utasaimin; penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaimin (terjemahan). Penerbit Najla Press, Februari 2003.Jakarta, hal. 16-17.

(6) Diambil dari Panduan Dalam Menuntut Ilmu, Syaikkh Muhammad bin Shalih al-Utasaimin; penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaimin (terjemahan). Penerbit Najla Press, Februari 2003.Jakarta, hal. 27-28.

(7) Diambil dari kitab Panduan Dalam Menuntut Ilmu, Syaikkh Muhammad bin Shalih al-Utasaimin; penyusun Fahd bin Ibrahim Sulaimin (terjemahan). Penerbit Najla Press, Februari 2003.Jakarta, hal. 21-26. dan kitab Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang Shahih. Ust. Yazid bin A.Q. Jawaz. Penerbit Pustaka At-Taqwa, Juli 2005. Bogor; hal.11-12. Keduanya secara ringkas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: