Masjid Al Amin

Kajian Ahlussunnah As Salafiyyah Masjid Al Amin Semampir Tengah IIIA Surabaya

‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash (Sosok Penulis Hadits yang Wara’)

Posted by masjidalamin on November 8, 2007

Nasabnya
‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash bin Wail bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’d bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka’b bin Luay bin Ghalib. Ada lagi yang mengatakan, bahwa namanya adalah Al-’Ash. Ketika masuk Islam maka Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam merubahnya dengan nama ‘Abdullah. (Siyar III/180).

‘Abdullah bin ‘Amr diberi kun-yah (panggilan kehormatan) dengan nama Abu Muhammad, ada yang mengatakan ‘Abdurrahman, ada yang mengatakan Abu Nushair Al-Quraisy As-Sahmi. Ibunya bernama Raithah binti Munabbah bin Al-Hajaj bin ‘Amr bin Hudzaifah bin Sa’d bin Sahm bin ‘Amr bin Hushaish bin Ka’b bin Luay.

Kepribadiannya
‘Abdullah bin ‘Amr adalah sosok pemuda mujahid yang gagah, tinggi, gemuk dan berwajah kemerah-merahan, besar perut dan kedua betisnya, putih rambut kepala dan jenggotnya. Pada waktu lanjut usianya kedua matanya buta.

‘Abdullah bin ‘Amr adalah Al-Imam Al-Hibru yaitu imam yang ‘alim, shalih lagi kuat dan semangat dalam beribadah. Beliau juga salah seorang shahabat Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan juga anak laki-laki shahabat Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, lebih dahulu masuk Islam daripada bapaknya dan rajin membaca Al-Qur’an, tiada punya rasa bosan. Beliau merasa bergembira, jika kebetulan ayat-ayat yang dibaca itu menceritakan kesenangan. Sebaliknya beliau menangis mencucurkan air mata jika membangkitkan hal-hal yang menakutkan.

Demikianlah, Allah menakdirkan ‘Abdullah menjadi seorang yang rajin beribadah, baik dalam shalat, puasa, membaca Al-Qur’an maupun shalat malam hingga beliau berlebih-lebihan dalam mengerjakannya. Dan Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun telah mengetahui rahasia jalan dan corak kehidupan ‘Abdullah bin ‘Amr. Hanya satu dan tidak berubah. Jika tidak pergi berjuang, maka hari-harinya itu dari mulai fajar sampai fajar berikutnya terpusat pada ibadah yang sambung menyambung, berupa shaum (puasa), shalat dan membaca Al-Qur’an.

Maka dipanggilnyalah ‘Abdullah dan diperintahkan agar tidak keterlaluan dalam beribadah. Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya (yang terjemahannya-pen), “Kabarnya kamu selalu puasa di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur ? Sesungguhnya cukuplah bagimu puasa tiga hari dalam setiap bulan !” “Aku sanggup lebih daripada itu.” Ujar ‘Abdullah. “Kalau begitu dua hari dalam sepekan !” Sabda Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Jawab ‘Abdullah, “Aku sanggup lebih banyak lagi.” Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari !” Setelah itu ditanyakan pula oleh Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Aku tahu bahwa kamu membaca Al-Qur’an sampai tamat dalam satu malam ! Aku khawatir kalau-kalau usiamu lanjut dan jadi bosan membacanya ! Bacalah setiap bulan sekali khatam ! Atau kalau tidak, sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam tiga hari. Lalu sabdanya pula,

“Aku puasa dan berbuka, bangun shalat malam dan tidur, juga kawin dengan perempuan, maka siapa yang tidak suka akan sunnahku, tidaklah termasuk golonganku.” (Shahih, Riwayat Bukhari).

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari, bahwa seorang yang ‘abid (ahli ibadah) juga seorang shahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ini ternyata dalam usianya yang lanjut dan sudah lemah dalam memelihara ibadahnya, sebagaimana yang biasa dilakukan, berkata (yang terjemahannya-pen), “Seandainya aku menerima rukhshah Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang puasa, (dalam riwayat yang lain yaitu kami menerima puasa 3 hari dalam sebulan yang pernah Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam katakan), tentu lebih menyenangkan daripada keluargaku dan hartaku”.

Dalam Siyar diterangkan, bahwa ‘Abdullaah bin ‘Amr pernah berkata (yang terjemahannya-pen), “Ayahku telah mengawinkan aku dengan seorang perempuan dari Quraisy. Setelah pernikahan aku menjadi tidak bisa menyendiri untuk ibadah dengan kuat dan semangat. Suatu ketika datanglah ayahku kepada menantunya, seraya berkata, “Bagaimana engkau jumpai suamimu ?” Dia menjawab, “Dia adalah sebaik-baik lelaki yang tidak butuh mencari perlindungan, dan tidak mau bergaul dengan perempuan”, Lantas ayah mendatangiku, dan memarahiku dengan perkataannya. “Kami menikahkan kamu dengan perempuan (bangsawan), tapi engkau sengsarakan dia.” Kemudian ayah pun pergi dan melaporkan hal itu kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Maka Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun mencariku, lantas aku datang kepada beliau. Beliau bersabda kepadaku, “Apakah kamu puasa di siang hari dan shalat di malam hari ?” Aku menjawab, “Ya”. Lantas Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda, “Tetapi kami berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur dan mencampuri perempuan (istri). Maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku maka tidaklah termasuk golonganku”.

Ilmu Beliau
Shahibun Nabi (‘Abdullah) ini, semenjak masuk islam, pertama-tama yang menjadi pusat perhatianya adalah Al-Qur’an, yang diturunkan secara berangsur-angsur. Setiap turun ayat maka dihafalkan dan diusahakannya untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna beliaupun telah hafal keseluruhannya. Dan beliau menghafalkan itu bukanlah hanya sekedar mengingat, akan tetapi dihafalkan dengan tujuan dapat dipergunakan untuk memupuk jiwanya, dan kemudian agar dapat menjadi hamba Allah yang taat.

Dalam hal ini beliau (‘Abdullah) pernah berkata (yang terjemahannya-pen), “Kami telah mengumpulkan Al-Qur’an, kemudian kami baca keseluruhannya dalam waktu semalam”. Memang beliau dikaruniai Allah akal yang sempurna, cerdas dan cemerlang, semangat dalam mencari ilmu dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, rajin dan tekun dalam mencatat, dan mempunyai kedudukan yang mapan dalam ilmu maupun amal. Sehingga yang paling menonjol dari beliau adalah suka beribadah, hinga pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa ia sangat berlebih-lebihan dalam ibadah.
Abu Hurairah pernah berkata,(yang terjemahannya-pen) “Tiada seorangpun dari shahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, yang lebih banyak haditsnya dari pada kami kecuali ‘Abdullah bin ‘Amr, karena beliau menulis/mencatat dan kami tidak menulis/mencatatnya.” (HR. Bukhari).

Disebut dalam Siyar hal. 87, bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr pernah berkata (yang terjemahannya-pen): “Kami pernah menghafal dari Rasulullah seribu matsal”. Dan juga katanya, “ketika itu kami pernah di sisi Rasulullah, menulis apa yang beliau katakan”

Keistimewaannya

Diantara keistimewaan beliau adalah:

  1. Beliau adalah sebaik-baik Ahlu Bait. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda (yang terjemahannya-pen): “Sebaik-baik Ahlu Bait adalah ‘Abdullah (Ibnu ‘Amr) dan ibunya ‘Abdullah.”
  2. ‘Abdullah bin ‘Amr pernah berkata (yang terjemahannya-pen): ” Pada suatu hari kami pernah bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di rumah beliau, lalu beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bersama kami (di rumah)? Kami berkata, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jibril ‘Alaihissalam”. Kami berkata, “Assalaamu ‘alaika Ya Jibril warahmatullah”. kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril telah menjawab salam kamu “. (HR.Thabrani Majmu’ az-Zawaid IX hal. 590)

Adapun hadits yang menerangkan mengenai zuhud beliau diantaranya adalah hadits riwayat Thabrani, bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr pernah berkata (yang terjemahannya-pen): “Sungguh bila ada berita yang dapat aku ketahui hari ini lebih aku sukai.”

Kedua, Abu ‘Abdurrahman Al-Huda, pernah mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr berkata (yang terjemahannya-pen), “Sungguh kebaikan yang saya ketahui lebih saya cintai dari dua misal bersama Rasulullah : Karena kami bersama Rasulullah himmah/kemauan kami hanya akhirat, dan kami tidak ada kemauan terhadap dunia. Tetapi kita sekarang telah cenderung kepada dunia (HR. Thabrani dalam Majmu’ al-Zawaid IX hal. 560)

Wafatnya
Mengenai wafatnya banyak ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan di Thaif, ada yang mengatakan di Makkah dan ada lagi yang mengatakan di Syam. Wallaahu a’lam bish-shawab. Beliau wafat pada malam hari dalam usia 72 tahun. Jenazah dimakamkan di rumahnya sendiri yang kecil, pada tahun 65 Hijriyah. Dan ada yang mengatakan pada 63 Hijriyah. Beliau dimakamkan di rumahnya sendiri, karena tidak bisa mengeluarkan jenazahnya ke kuburan di sebabkan kerusuhan tentara Marwan. (Wallahu’alam)

Dikutip dengan perbaikan tulisan dan sebagian ungkapan dari Tulisan Umi Ali ‘Abdullah di Majalah As-Sunnah, edisi 21/Th. ke-2 hal. 70-72

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: